“cerita negara kita”

Just another WordPress.com weblog

Pasukan Pemukul Reaksi Cepat

Posted by suryasajalah pada Maret 31, 2009

 

Pasukan Pemukul Reaksi cepat

Dalam konsep penggelaran pasukan berintensitas tinggi, TNI mengenal istilah PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi cepat). Meminjam bahasa Panglima Kostrad Letnan Jenderal TNI Hadi Waluyo, PPRC adalah pasukan pemukul TNI untuk menghadapi kondisi kondisi darurat di wilayah NKRI.

Karena sifatnya yang siap digerakkan supercepat itu pula, batalion PPRC mestilah dari unsur Linud alias pasukan payung. Namun demikian, unsur lain seperti Marinir juga mempunyai kesiapan untuk sewaktu waktu digerakkan sebagai pasukan PPRC. Secara periodik status siaga sebagai PPRC digilir antara Divisi I dan Divisi II Kostrad.

Oleh Panglima Divisi kemudian ditunjuk Batalyon mana yang mengemban tugas dan tanggung jawab tersebut. Status ini berlaku selama 2 tahun. Selama itu, batalyon yang ditunjuk terus menyiapkan diri dengan berbagai latihan, termasuk terjun massif.

Panglima Divisi 1 sekalu Komandan PPRC memang memiliki garis komando langsung dibawah Panglima TNI. Sebagai komandan PPRC, ia membawahi pasukan gabungan dari tiga angkatan di jajaran TNI. Ada Satgasrat (Satuan Tugas Darat) yang diambil dari Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) dan lazimnya Komandan Brigade otomatis menjadi Komandan Satgasrat. Satuan ini merupakan representasi PPRC dari TNI AD.
Kemudian ada Satgasla (Satuan Tugas Laut) yang bisa diambil dari Guspurla (Gugus Tempur Laut), Guskamla (Gugus Keamanan Laut) jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) atau Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) TNI AL lengkap dengan unsur laut, tim pendarat (Marinir) dan sebagainya. Satuan ini merupakan representasi PPRC dari TNI AL.
Yang terakhir adalah Satgasud (Satuan Tugas Udara), tetapi nama resmi sekarang adalah Satlakopsud (Satuan Pelaksana Operasi Udara) yang dipimpin oleh Komandan Satlakopsud. Satlakopsud membawahi unsur-unsur dimana biasanya Komandan Satlakopsud dijabat oleh Pangkoopsau I atau Pangkoopsau II secara bergantian. Satuan ini merupakan representasi PPRC dari TNI AU.
images1images31

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Paskhas

Posted by suryasajalah pada Maret 28, 2009

Korps Pasukan Khas (PASKHAS)

Logo PaskhasKorps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (disingkat Korpaskhasau atau Paskhas atau sebutan lainnya adalah Baret Jingga), merupakan pasukan (khusus) yang dimiliki TNI-AU. Sama seperti satuan lainnya di TNI-AD dan TNI-AL, Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra: laut, darat, udara. Hanya saja dalam operasi, tugas dan tanggungjawab, Paskhas lebih ditujukan untukmerebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat kawan. Kemampuan satu ini disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD).

Motto Paskhas:
Karmaye Vadikaraste Mafalesu Kadacana
artinya :
bekerja tanpa menghitung untung dan rugi

Sejarah
Penerjunan pasukan pertama kali

Personil Paskhas 1Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Muhammad Noor mengajukan permintaan kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk tugas : membentuk dan menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat di kalimantan, membuka stasiun radio induk untuk memungkinkan hubungan antara Yogyakarta dan Kalimantan, dan mengusahakan serta menyempurnakan daerah penerjunan (Dropping Zone) untuk penerjunan selanjutnya.

Tanggal 17 Oktober 1947, tiga belas orang anggota diterjunkan di Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka adalah : Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F.M.Suyoto, Bahrie, J.Bitak, C.Williem, Imanuel, Mika Amirudidn, Ali Akbar, M. Dahlan, J.H.Darius dan Marawi. Kesemuanya belum pernah mendapat pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (Ground Training). Pasukan ini dipimpin oleh Tjilik Riwut, seorang Mayor Angkatan Darat, yang berasal dari suku Dayak kelahiran Kasongan Katingan ( Kalteng saat ini). Dia diminta oleh AURI untuk memandu sekaligus memimpin pasukan tersebut. Atas jasa-jasanya Tjilik Riwut diangkat menjadi anggota AURI dan pensiun dengan pangkat Komodor Udara.

Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara. Dan sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967. Bahwa tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari jadiKomando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (KORPASKHAS).

Perubahan organisasi pasukan

PASKHASDalam perjalanan sejarahnya organisasi Korpaskhas mengalami perubahan, berawal dari kebutuhan Badan Keamanan Rakyat Udara (BKRO) untuk melindungi pangkalan udara yang direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda. Setelah Indonesia merdeka sekaligus konsolidasi BKRO dibentuklah organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang masih bersifat lokal. Baru pada tahun 1950, PPP dipusatkan di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT)membawahi 8 kompi PPP.

Pada tahun 1950 diadakan sekolah terjun payung di Lanud Andir dalam rangka mempersiapkan pembentukan pasukan PARA, hasil didik dari sekolah para inilah yang kemudian disusun kompi-kompi pasukan para. Setelah terbentuk kompi-kompi pasukan para, pada bulan Februari 1952 dibentuk Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sehingga pada tahun 1952, Pasukan TNI AU terdiri dari PPPPGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara).

Dalam rangka pembebasan Irian Barat, sesuai perintah MEN/PANGAU dibentuk Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) yang melingkupi seluruh pasukan di atas.

KOPPAU

PASKHASDan tanggal 15 Oktober 1962 berdasarkan Keputusan MEN / PANGAU No. 159 dibentuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) yang terdiri dari markas Komando berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon masing-masing di Palembang, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Jakarta sedangkan Resimen PGT membawahi 3 Batalyon masing-masing di Bogor, Bandung dan Jakarta.

KOPASGAT

Bedasarkan hasil seminar pasukan di Bandung pada tanggal 11 s.d. 16 April 1966, sesuai dengan Keputusan MEN/PANGAU No. 45 Tahun 1966, tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (KOPASGAT) yang terdiri dari 3 Resimen :

  1. Resimen I Pasgat di Bandung, membawahi :
    1. Batalyon A Pasgat di Bogor
    2. Batalyon B Pasgat di Bandung
  2. Resimen II Pasgat di Jakarta, membawahi :
    1. Batalyon A Pasgat di Jakarta
    2. Batalyon B Pasgat di Jakarta
    3. Batalyon C Pasgat di Medan
    4. Batalyon D Pasgat di Banjarmasin
  3. Resimen III Pasgat di Surabaya, membawahi :
    1. Batalyon A Pasgat di Makassar
    2. Batalyon B Pasgat di Madiun
    3. Batalyon C Pasgat di Surabaya
    4. Batalyon D Pasgat di Biak
    5. Batalyon E Pasgat di Yogyakarta

Selanjutnya bedasarkan Keputusan KASAU No. 57 Tanggal 1 Juli 1970, Resimen diganti menjadi WING

PUSPASKHASAU

Sejalan dengan dinamika penyempurnaan organisasi dan pemantapan satuan-satuan TNI, maka berdasarkan Keputusan KASAU No. Kep/22/III/ 1985 tanggal 11 Maret 1985, Kopasgatberubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (PUSPASKHASAU).

KORPASKHASAU

Seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI Angkatan Udara, maka tanggal 17 Juli 1997 sesuai Skep PANGAB No. SKEP/09/VII/1997, status Puspaskhas ditingkatkan dariBadan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) sehingga sebutan PUSPASKHASberubah menjadi Korps Pasukan Khas TNI AU (KORPASKHASAU).

Kekuatan Tempur Paskhas

PASKHASSetelah berubah status menjadi Kotamabin berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara No. SKEP/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999, Korpaskhas membawahi WING Paskhas (WING I, WING II, WING III), Detasemen Bravo Paskhas (Den Bravo Paskhas) dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas (Den Walkol Paskhas).

  1. Wing 1/Hardha Maruta (Halim Perdana Kusuma, Jakarta):
    1. Skadron 461/Cakra Bhaskara (Halim Perdana Kusuma, Jakarta)
    2. Skadron 462/Pulanggeni (Husein Sastranegara, Bandung)
    3. Skadron 465/Brajamusti (Halim Perdana Kusuma, Jakarta)
    4. Flight A (Lanud Medan, Medan)
    5. Flight B (Lanud Pekanbaru, Riau)
    6. Flight C (Atang Sanjaya, Bogor)
    7. Flight D (Supadio, Pontianak)
  2. Wing 2 (Abdul Rahman Saleh, Malang):
    1. Skadron 463 (Iswahyudi, Madiun)
    2. Skadron 464 (Abdul Rahman Saleh, Malang)
    3. Skadron 466 (Hasanudin, Makasar)
    4. Flight E (Adisucipto, Yogyakarta)
    5. Flight B (Manuhua, Biak)
  3. Wing 3 (Margahayu, Bandung):
    1. Pusat Pendidikan dan Latihan Paskhas
  4. Den Bravo Paskhas di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung.
  5. Den Walkol Paskhas di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Paskhas saat ini berkekuatan 3.000 personel. Terbatasnya dukungan dana dari pemerintah memang jadi kendala untuk memodernisasi Paskhas. Dari segi persenjataan saja, prajurit Paskhas hanya mengandalkan persenjataam seperti senapan serbu SS-1 dan senapan mesin ringan Scorpion sebagai perlengkapan unit anti teroris Detasemen Bravo.

Namun begitu, rencana mengembangkan Paskhas menjadi 10 Skadron dengan jumlah personel dua kali lipat dari sekarang, tetap menjadi ‘energi’ bagi Paskhas untuk terus membenahi diri. Setidaknya sampai saat ini, pola penempatan Paskhas masih mengikuti pola penggelaran alutsista TNI AU, dalam hal ini pesawat terbang. Dengan kata lain, di mana ada skadron udara, di situ (idealnya) mesti ada skadron Paskhas sebagai unit pengamanan pangkalan.

Sumber :

     

  1. Dispen TNI-AU
  2. Wikipedia
  3. Angkasa
  4.  

Foto – foto PASKHAS Saat Bertugas Maupun Latihan
devile Paskhas Paskhas Train

Parade Paskhas Parade Paskhas

Peserta Upacara Paskhas Paskhas

PASKHAS PASKHAS

Paskhas Parade Paskhas

Paskhas Repling Paskhasau melaksanakan past rop

Warga KehormatanPaskhasau melaksanakan past ropTeropong Malam Paskhas

Terjun Malam Paskhas Alutsista Paskhas

Uji Tembak PaskhasWarga KehormatanSenjata Paskhas

Posted in Uncategorized | 11 Comments »

Kopaska

Posted by suryasajalah pada Maret 14, 2009

Kalau ditilik dari sejarah KOPASKA ( Buku Sejarah KOPASKA yang sempat diterbitkan Gramedia ) Metode pendidikan komando Kopaska adalah adopsi dari materi kurikulum pendidikan komando Kopassus dan sejak itulah embel2 nama “Komando” melekat resmi pada KOPASKA pada tahun 1962. hal ini terjadi setelah pelatih KOPASKA merasa “terbantu” dengan kualifikasi KOMANDO yang telah dimiliki anggota RPKAD calon anggota Kopaska angkatan III. Sehingga tidak usah melatih di bidang materi tempur darat dan terjun payung, sebab RPKAD adalah “guru” dari semua itu di kalangan TNI.

Harap diingat bahwa anggota KOPASKA angkatan III adalah anggota RPKAD. Adanya pelatihan lintas angkatan ini karena TNI AL tidak dapat memenuhi pasukan dengan kuota standar plus berkualifikasi yang cukup untuk menjadi pasukan katak. Kenapa RPKAD yang dipilih menjadi anggota Kopaska? bukan KKO? Anggota Kopaska angkatan selanjutnya diharuskan menempuh pendidikan baret merah dulu sebelum menempuh kecabangan ke-paska-an. Ini terjadi sampai tahun setelah Komandan RPKAD Sarwo Edhie diganti. Namun sebelum itu Kursus Pelatih Komando KOPASKA telah selesai dilaksanakan oleh Pusdik RPKAD.

Ya Bisa jadi para petinggi AL punya alasan resmi or not yang waktu itu bisa saja menyulut “pertikaian” intern dalam TNI AL sendiri kalau diungkapkan secara gamblang. Terutama oleh 3 orang yang disekolahkan UDT oleh TNI AL di Amrik.

Extern :

1. History : Di AL manapun seluruh dunia tidak pernah ada anggota Marinir yang kemudian beralih menjadi satuan pasukan katak karier. Karena walaupun sama2 bersifat amfibi, Doktrinasi dan pembentukan prajurit kedua satuan in sangat berbeda dikarenakan TUPOKSI yang berbeda pula. Walaupun dalam kenyataannya kemampuan dan kualifikasi keahlian yang dimiliki satuan ini adalah nyaris sama. Cuma pengaplikasiannya yang beda di lapangan. SBS di Inggris bukanlah satuan resmi pasukan katak AL Inggris melainkan setingkat detasemen intai amfibi marinir Inggris yang juga mengemban tugas ke-paskaan.
2. Satuan “sejenis” KOPASKA dalam sejarah malah dilahirkan dalam tubuh matra darat. Fenomena ini ditemukan di Inggris pada SAS yang melahirkan SBS yang akhirnya diambil alih satuan Marinir.

Intern :

1. Bisa jadi materi pendidikan kecabangan KKO (plus “Dikko” nya) tidak cocok/tidak sesuai/kurang mengena pada apa yang diharapkan pada seorang prajurit Kopaska. Karena setau saya sampai detik ini Kopaska tetap menerapkan materi komando yang diadopsi dari Pusdik Passus.
2. Kalau pendidikan bergabung bersama Marinir maka nama KOPASKA sendiri akan tenggelam bahkan akan menimbulkan ekses dan kerancuan oleh masyarakat bahwa KOPASKA bernaung di bawah Korps Marinir. Kekhawatiran ini kemudian terjadi pada tubuh DENJAKA yang bernaung dibawah KORMAR padahal anggotanya adalah gabungan Taifib dan KOPASKA.

Tapi lucunya lulusan angkatan I Sepaskal dilantik oleh Komandan Marinir. Aneh….

Nah kalau ditelusuri dari semua itu semestinya dari dulu KOPASKA seharusnya memang terlahir sebagai pasukan KOMANDO khas laut. Dan mempunyai satu komando terpisah dengan Komando Armada. Kopaska harus memiliki 1 Komandan Satuan yang berpangkat bintang 1 (Laksamana Pertama ) yang membawahi satpaska Armatim dan Armabar, Sepaska AL. Untuk menyandang gelar dan status sebagai pasukan komando tak harus mempunyai komandan jenderal alias berpangkat 2 bintang. Seperti halnya Paskhas AU.

Maka dengan sistem pelatihan, Organisasi yang bersifat BS, dan History ini Kopaska sebenarnya bisa diajukan dan layak sebagai pasukan komando TNI AL.

KOPASKA dibentuk karena kepentingan tim UDT dari angkatan laut kita sewaktu pemberantasan Permesta, sewaktu masuk Teluk Bayur, KRI kita dihadang oleh perahu2 kecil dan beberapa ranjau buatan, pada saat itu perlu seorang penyelam yg mengetahui pengetahuan Handak, dalam artian bukan penyelam biasa/diver/salvage diver (pada saat itu diver banyak di satuan kapal ranjau), yang diperlukan adalah Underwater Demolition Team. Maka Bpk OP Kusno melihat di US, adakah pendidikan UDT tersebut, setelah kembali beliau beserta 1 perwira dan 1 anggota mengikuti Naval Diving School dilanjutkan BUDs. Setelah kembali beliau merekut anggota TNI AL untuk sekolah pertama dan dinamakan Tim Instruktur. Setelah kembali dan adanya kebutuhan operasi TRIKORA maka atas perintah MENPANGAL dan koordinasi dgn MENPANGAD, Tim Instruktur melatih anggota RPKAD (dimana sebelumnya tim ini sekolah terjun di Batujajar dan Diko di Pusdikpassus)

Hasilnya pelatih dan murid operasi bersama ke Irian Barat dengan sasaran:
1. Instalasi radar di Biak
2. Penculikan Laksamana Reeser
3. Human Torpedo (Laksamana Urip – Operasi Y – gunakan kursi lontar Mig 17)

Nah para hadirin setelah operasi Trikora maka TNI AL mulai membentuk SEKOLAH PASUKAN KATAK TNI AL / SEPASKAL yg merekut anggota dari TNI AL.

Tapi sampai saat ini kita menerima siswa dari KOPASUS SAT 81 GULTOR.

Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Marsose : Pasukan Khusus Pertama di Indonesia

Posted by suryasajalah pada Maret 14, 2009

Nota Menteri Luar Negeri Inggris ini tidak dijawab oleh Den Haag, karena 
secara diam-diam Gubernur Laging Tobias telah mengirimkan pasukan militer yang terdiri dari orang-orang Aceh yang telah bersahabat untuk membebaskan para sandera. Teuku Umar yang sebelumnya telah menyatakan takluk kepada Belanda telah dipergunakan untuk memimpin operasi militer ini. 

Teuku Umar dengan pasukannya yang dibawa oleh kapal perang Belanda, 
diperlakukan sangat tidak enak. Ia harus tidur di geladak sebagai 
kuli-kuli saja. Rasa dendamnya dipendamnya selama ia dan pasukannya di kapal Belanda itu. Tetapi begitu Teuku Umar dengan pasukannya didaratkan oleh sebuah sekoci, maka semua awak kapal dari sekoci itu dibunuhnya, dan Teuku Umar dengan pasukannya menyatukan diri dengan rakyat Teunom. 

Kegagalan yang ketiga kalinya untuk merebut sandera dari tangan rakyat 
Teunom, mendorong Jenderal Van Swieten untuk mengirimkan surat ke dewan menteri Belanda. Dengan kata-kata singkat diusulkannya agar Inggris dan Belanda bersama-sama mengirimkan pasukan penyerbu untuk menghukum rakyat Teunom. Menurut Van Swieten, ini tidak akan merendahkan prestise Belanda di nusantara, tetapi justru menaikkannya. Sebab, dengan ini akan ternyatalah bahwa tidak timbul pertentangan antara Belanda dan Inggris. 
“Menurut saya akan merupakan langkah politik jitu bila panglima skuadron Inggris diminta membuka perundingan atau mengajukan tuntutan. Maka dia pun bertindak bagai penuntut yang meminta warga negaranya dibebaskan.” 

Usul Van Swieten diterima oleh Dewan Menteri Belanda dan juga oleh 
Inggris, sehingga pada tanggal 12 Agustus 1884, skuadron Inggris-Belanda dengan pimpinan Maxwell dan Laging Tobias mengepung daerah Teunom dan tanpa perdebatan yang berarti, pemimpin Teuno m menyerahkan para sandera dengan imbalan tebusan sebanyak seratus ribu ringgit dan pelabuhannya tidak diblokade lagi. 

Setelah masalah kapal Nisero selesai, pada tanggal 20 Agustus 1884, 
penguasa kolonial Belanda memulai memasang Lini Konsentrasi, yang luasnya kira-kira 50 km2 dengan Kutaraja sebagai jantungnya, dikelilingi oleh suatu lini dengan enam belas benteng, dalam rangka mengamankan daerah kekuasaannya di Aceh. Jarak antara satu benteng dengan benteng lainnya satu sampai dua kilometer, dan rata-rata lima kilometer, dari titik tengah. Keseluruhan bentuknya kira-kira merupakan setengah bulatan dengan bagian terbuka ke arah laut. 

Rel trem menghubungkan benteng-benteng itu yang jumlah penghuninya masing-masing berbeda, dari 160 orang dengan lima perwira dalam benteng terbesar, sampai 60 orang dengan seorang perwira dalam benteng terkecil. Benteng-benteng ini temboknya tanah dengan pagar kayu runcing-runcing, dan dua meriam atau lebih di baluarti yang menjorok di pojok-pojok, sehingga baik lapangan depan maupun sebelah tembok–tembok itu dapat tersapu oleh 
tembakan meriam. 

Pembuatan Lini Konsentrasi ini bersamaan dengan diberlakukannya kembali pemerintah militer di Aceh dan memakan waktu setengah tahun. Baru pada bulan Januari 1885, pos-pos yang berada di luar Lini Konsen-trasi dikosongkan oleh pasukan Belanda, tetapi segera diisi oleh pasukan 
gerilya Aceh. 

Sistem Lini Konsentrasi pasukan Belanda ini, dinilai oleh para pemimpin 
perjuangan Aceh sebagai suatu taktik kekalahan Belanda. Hal ini merupakan dorongan semangat untuk melanjutkan perjuangan bagi rakyat Aceh untuk mengusir Belanda kafir. Teungku di Tiro yang masih tetap tegar dan tidak kenal damai serta beberapa ulama lainnya; memainkan peranan penting untuk melanjutkan peperangan di Aceh sampai penguasa kolonial angkat kaki dari bumi Aceh. 

Walau sistem Lini Konsentrasi dianggap yang paling aman buat Belanda, 
tetapi ternyata masih saja banyak pasukan gerilya Aceh dapat menembus 
benteng-benteng mereka dan melakukan serangan, sehingga keamanan semu tidak pernah dicapai. 

Di samping itu sistem Lini Konsentrasi menimbulkan kejenuhan bagi pasukan Belanda, keadaan terkurung dan tidak ada operasi militer yang dapat meningkatkan prestasi, apalagi sesudah bulan Agustus 1885 setelah beberapa sergapan pasukan gerilya Aceh dalam l ini ter-jadi, hampir semua lalu lintas dengan luar tertutup dan semua bahan makanan harus didatangkan dari laut; akibatnya wabah beri-beri yang parah, pelanggaran disiplin dan desersi besar-besaran menimpa pasukan Belanda. 

Pengaruh demoralisasi kehidupan dalam Lini Konsentrasi dengan baik 
dilukiskan oleh banyaknya jumlah mereka yang lari. Berapa banyak pasukan Belanda yang berasal dari penduduk bumi putera yang melakukan desersi tidak diketahui, tetapi pastilah ratusan, karena semua berita sependapat mengemukakan bahwa jumlahnya jauh lebih besar daripada pasukan Belanda yang berasal dari Eropa. Sedangkan jumlah seratus untuk golongan yang terakhir ini (pasukan asal Eropa) tidak dilebih-lebihkan. 

Pada tahun 1896 pasukan Belanda menyerang tempat kediaman Panglima Polim, kepala sagi Mukim XXII, di Gle Jeung yang terletak di Sungai Aceh. Banyak keterangan yang mereka peroleh bahwa di sana sudah sejak lama tidak boleh tidak berdiam sekumpulan desertir (pelarian) dalam jumlah banyak. Bukti yang paling kurang ajar adalah sepucuk surat dalam bahasa Belanda yang mereka tujukan kepada paaukan Belanda. Dalam surat itu dimintanya agar detasemen pasukan Belanda bila kembali ke Kutaraja mau meninggalkan sedikit jenewer. 

Dalam kelompok pelarian ini terdapat pula seorang jago tembak bangsa 
Belanda yang bernama Carli dari batalyon XVI. Ia pandai berbahasa Aceh 
dan menggabungkan diri dengan pasukan Panglima Polim. Pada pertempuran tahun 1896 dan 1897 yang dilakukan oleh pasukan Panglima Polim, Carli dengan menggunakan senapan Besumon modern menyerang pasukan Belanda dengan gigih, sehingga pihak belanda menjadi kewalahan. 

Sistem Lini Konsentrasi ternyata tidak menjamin keamanan dan ketenteraman kedudukan penguasa kolonial Belanda, karena ternyata pasukan gerilya Aceh masih mampu melakukan serangan sampai ke daerah-daerah yang terdekat dengan Kutaraja. Untuk mengatasi serangan gerilya Aceh, maka pada tanggal 20 April 1890, seorang Jaksa pada pengadilan di Kutaraja, bernama Muhammad Arif, menasehatkan kepada Gubernur militer Aceh ketika itu Jenderal Van Teijn, dan kepala stafnya yang bernama J.B. van Heutsz, untuk membentuk sejumlah detasemen mobil kecil-kecil yang terdiri dari orang-orang yang cukup berani untuk mencari gerilya dan melawannya dengan senjata-senjata mereka sendiri. Kontra gerilya sebagai jawaban atas gerilya. Usul ini diterima. Nama korps baru ini menunjukkan bahwa pada mulanya ia dimaksudkan sebagai polisi militer. 

Pembentukan pertama korps ini terdiri dari satu divisi yang terbagi dalam 
dua belas brigade, yang masing-mssing terdiri dari dua puluh orang serdadu Ambon dan Jawa dibawah pimpinan seorang sersan Eropa dan seorang kopral Indonesia. Pada iahun 1897 menyusul perluasan sampai dua divisi dan pada tahun 1899 sampai lima divisi; semuanya berjumlah seribu dua ratus orang. Kemudian ada lagi beberapa kompi yang berasal dari Jawa; dan pasukan inilah yang kemudian terkenal dengan pasukan Marsose. 

Dalam kisah-kisah romantis perang Aceh biasanya digambarkan bahwa 
seakan-akan 1200 orang Marsose inilah yang membereskan apa yang tidak dapat dilakukan oleh bala tentara yang sepuluh kali lebih besar dulu. Ini tidak benar! Secara kekuatan efektif, kekuatan pasukan Belanda seluruhnya di Aceh di bawah van Heutsz lebih besar daripada kekuatan–kekuatan sebelumnya. 

Di bawah pimpinan beberapa orang perwira telah dilakukan 
kekejaman-kekejaman yang tidak terlukiskan dengan pasukan-pasukan teror oleh brigade-brigade Marsose, yang mengakibatkan ratusan dan bahkan ribuan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang terbunuh secara menyedihkan. 

Kemandirian brigade merupakan rahasia besar Marsose. Persenjataannya 
adalah sebaik-baik persenjataan pada masa itu, yakni karaben pendek 
(bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong) sepatu dan 
pembalut kaki untuk semua anggota dan topi. Memang brigade-brigade ini membawa beberapa narapidana untuk mengangkut perlengkapan mereka dalam setiap operasi militer, tetapi secara keseluruhan pasukan Marsose adalah hidup berdikari. Semangat pasukan senantiasa dipertinggi dengan berbagai cara: hadiah, kenaikan pangkat dan upacara. 

Pasukan Marsose tahun 1890 dapat disamakan dengan anggota pasukan komando, pasukan payung, dan pasukan-pasukan khusus lainnya di kemudian hari. 
Merekapun merasa sebagai pasukan istimewa. Adalah merupakan kehormatan bagi perwira untuk ditempatkan pada korps ini. Sebagian besar para perwira pribumi yang terkenal dan yang terjahat berasal dari pasukan Marsose, dan mereka sangat disanjung-sanjung oleh penguasa kolonial Belanda, dengan memberikan berbagai gelar militer kehormatan. 

Ketika pada tahun 1912 pasukan Marsose di bawah pimpinan Letnan B.J. 
Schmidt dibubarkan, setelah kedua brigadenya di Tangse selama tiga tahun mengejar-ngejar pasukan gerilya dibawah pimpinan ulama Tiro terakhir,keempat puluh satu anggota pasukannya ini semuanya memperoleh dua bintang 
Militaire Willemsorde kelas tiga, sebilah Pedang Kehormatan, tiga Militaire Willemsorde kelas empat, dua Bintang Perunggu, dan sepuluh pernyataan Kehormatan dalam perintah-perintah harian. 

Pada bulan Januari 1891, rakyat Aceh mendapat musibah yang sangat besar. Karena kedua tokoh utama perjuangan rakyat Aceh meninggal dunia karena sakit, yaitu Panglima Polim dan Teungku Cik di Tiro. Dengan wafatnya kedua tokoh utama Aceh ini, maka kekuatan pasukan perlawanan terhadap Belanda menjadi terpecah-pecah, sebab para penggantinya tidak mempunyai kekuatan moral sebagaimana para pendahulunya. 

images-13

Posted in Militer | 2 Comments »

Soeharto Dalang G-30-S/PKI?

Posted by suryasajalah pada Maret 14, 2009

HM Soeharto

 

G-30-S/PKI dan Isu Dewan Jenderal

 

TOKOH UTAMA 02: Tatkala Bung Karno berkunjung ke Semarang, Mayjen Soeharto men-jabat Panglima Kodam Diponegoro. Pak Harto mencurahkan isi hatinya tentang PKI. Sembari berjalan ia katakan kepada Bung Karno bahwa ia melihat semakin hari PKI semakin menonjol. Tanyanya: “Apakah itu tidak berbahaya?” Seperti dalam nada marah, Bung Karno menjawab: “PKI mesti dimasukkan ke dalam Pancasila. Dan itu urusan saya.” 

Meski pendapatnya tidak diterima, Soeharto lega karena telah 
menumpahkan sesuatu yang sejak lama sangat mengganjal 
perasaannya. Mayjen Soeharto tidak lama memegang komando Kodam Diponegoro. Orang-orang PKI menyebarkan isu bahwa ia melakukan korupsi. Isu ini sampai ke telinga Bung Karno. Mayjen Soeharto ditarik dan disekolahkan di Seskoad, Bandung. Selepas Seskoad, tanggal 1 Mei 1963, Mayjen Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga (1964), kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal (1965).
Situasi politik di dalam negeri tambah tidak menentu. PKI menggusur partai-partai politik lain dan ormas-ormas dengan menyatakan dirinya yang paling revolusioner, sedangkan lawan-lawannya dicap sebagai “kontra revolusi”. PKI terus mengipas Bung Karno. Dan orang-orang yang ada di sekitar Presiden tidak ada yang berani menyampaikan pendapat yang berlainan. Gambaran peta politik waktu itu sudah jelas: adanya perselisihan yang tajam antara AD, golongan Islam dan nasional yang anti komunis dengan PKI dan rekan-rekannya, di pihak lain.
Tanggal 16 September 1963, terbentuk negara Federasi Malaysia. Ini menimbulkan kemarahan besar pada Bung Karno. Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaya, 17 September 1963. Bung Karno menilai pembentukan Malaysia melanggar kesepakatan antara dirinya dan PM Tengku Abdul Rachman di Tokyo, Juni 1963. Malaysia dianggap sebagai proyek neokolonialisme Inggris. Bung Karno menunjukkan kekesalannya, dengan menyebutkan di depan umum, bahwa “Pemerintah Indonesia telah dikentuti.”
Di New York, para diplomat Indonesia bekerja ekstra keras untuk menggagalkan masuknya Malaysia ke dalam Dewan Keamanan PBB. Ada ultimatum dari Jakarta, “Jika DK-PBB menerima Malaysia, Indonesia akan meninggalkan PBB.” Ternyata Malaysia diterima. Tanggal 1 Januari 1965, Menlu Subandrio dengan resmi menyatakan sikap Indonesia keluar dari PBB.
Bung Karno menyerukan Komando Pengganyangan Malaysia, dikenal dengan Dwi-Komando-Rakyat, atau Dwikora, dalam apel besar Sukarelawan di Jakarta, 3 Mei 1964. Dwikora menetapkan: perhebat ketahanan Revolusi Indonesia dan bantu perjuangan revolusioner rakyat Serawak untuk menggagalkan negara boneka Malaysia. Situasi terasa amat berbahaya. Suasana konfrontasi dengan Malaysia makin panas.
Tanggal 2 September 1964, dibentuk Komando Siaga (KOGA), panglimanya Laaksamana (U) Omar Dhani. Wakil panglima, Laksamana (L) Mulyadi dan Brigjen. A. Wiranatakusumah. Kepala stafnya Komodor (U) Leo Watimena. Tanggal 28 Februari 1965, Presiden Soekarno mengubah KOGA dengan Komando Mandala Siaga (KOLAGA). Panglimanya tetap Omar Dhani, Letjen Soeharto, Wakil Panglima I, Mulyadi Wakil Panglima II. Kepala stafnya tetap Laksda Leo Watimena dan wakil Kepala Staf Brigjen. A. Satari.
Sementara itu PKI terus meningkatkan agitasinya. Di pelbagai tempat terjadi keributan. Di Kediri, seorang Kiai dan Imam dipukuli oleh orang-orang PKI. Di Bandar Betsy, Sumatera Utara, Peltu. Sudjono dikeroyok secara beramai-ramai oleh orang-orang PKI sampai meninggal. Bung Karno mendapat masukan agar Indonesia lebih siaga. Pelbagai informasi di antaranya datang dari PKI yang sedang giat-giatnya menjalankan taktik, rencana pembentukan Angkatan V yang ditolak Angkatan Darat.
PKI menuntut Nasakomisasi di segala bidang. Menuntut buruh dan tani dipersenjatai. Asal muasalnya, PM China Chou En Lai menyarankan PKI untuk membentuk Angkatan V di luar Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian. Untuk pembentukan Angkatan Kelima, Chou En Lai menjanjikan 100.000 pucuk senjata ringan secara cuma-cuma. Pimpinan AD dengan tegas menolak tuntutan PKI. Juga pimpinan AL dan AK, kecuali AU, Omar Dhani.
Lalu PKI mengembuskan isu tentang “Dewan Jenderal” dengan disiarkannya apa yang disebut “Dokumen Ginchrist”. Ginchrist adalah Duta Besar Inggris yang waktu itu bertugas di Indonesia. Dan dokumen yang memakai namanya itu dikatakan ditemukan di rumah Bill Palmer, di Puncak, sewaktu rumah importir film-film Amerika itu, diobrak-abrik Pemuda Rakyat.
Pimpinan PKI DN Aidit yang mengembuskan isu “Dewan Jenderal”, dibicarakan dengan Subandrio yang merangkap ketua BPI (Badan Pusat Intelijen). Isu itu sampai ke telinga Presiden Soekarno. Bung Karno kemudian menanyakan kepada Pangad Letjen. A. Yani: “Apa benar ada Dewan Jenderal dalam Angkatan Darat, antara lain, untuk menilai kebijaksanaan yang telah saya gariskan?” Jenderal Yani menjawab, “Tidak benar, Pak. Yang ada ialah “Wanjakti” (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira Tinggi). Dewan ini mengurus jabatan dan kepangkatan perwira-perwira Tinggi Angkatan Darat.”
Lalu isu itu dikembangkan lagi oleh Aidit, dengan menyebutkan,”ada jenderal-jenderal yang tidak loyal pada Pemimpin Besar Revolusi. Dewan Jenderal akan mengadakan coup.” Isu itu berkembang sekitar Mei, Juni dan Juli, mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September 1965.
Tanggal 4 Agustus 1965, Presiden Soekarno jatuh pingsan dan muntah-muntah. Rupanya kejadian ini menimbulkan pikiran yang mendesak pada Aidit yang baru kembali dari Moskow dan Peking untuk mengadakan tindakan, yakni merebut kekuasaan. Tampaknya ia berpikir, lebih baik mendahului daripada didahului oleh AD. Maka, pada dinihari 1 Oktober 1965, terjadilah malapetaka di negeri ini, manifestasi dari pikiran-pikiran mereka yang jahat.
Dinihari itu terjadi penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal AD. Pak Harto mendengar siaran G-30-S/PKI melalui RRI. Selang seperempat jam usai siaran, Pak Harto menerima Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin Mochtar. Mereka diperintahkan menghubungi Komandan Batalyon yang berada di sekitar Monas, agar menghadap kepada Panglima Kostrad.
Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin Mochtar kembali menghadap dan bercerita, bahwa Danyon 454 dan 530 tidak ada di tempat, mereka sedang ke Istana. Pak Harto tidak puas. Ia minta lagi keduanya agar menyuruh Wadanyon 454 dan 530 menghadap. Selang setengah jam Wadanyon 454 Kapten Kuntjoro dan Wadanyon 530 Kapten Suradi datang di kamar kerjanya. Pak Harto bertanya: “Tugasmu di sini apa?” Hampir berbarengan mereka menjawab, “mengamankan Presiden, karena akan ada kup dari Dewan Jenderal.”
“Itu semua tidak betul,” jawab Pak Harto sambil menatap kedua kapten itu. “Kamu tahu, Presiden Soekarno saat ini tidak ada di Istana. Coba kamu cek sendiri ke Istana kalau tidak percaya. Lagi pula Dewan Jenderal itu tidak ada, yang ada Wanjakti, saya sendiri anggotanya. Saya mengetahui betul, gerakan Untung (Letkol) pasti didalangi oleh PKI.” Setelah diam, Pak Harto melanjutkan ucapannya: “Ini merupakan pemberontakan, jadi, saya memutuskan untuk menghadapinya.” Langkah pertamanya, menyelamatkan dua batalyon yang dilibatkan dalam petualangan Letkol Untung, pemimpin Dewan Revolusi Indonesia.
Tanggal 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno memanggil kabinet untuk bersidang di Istana Bogor. Pak Harto juga dipanggil untuk memberikan laporan mengenai situasi. Hadir juga Lukman dan Nyoto dari PKI, Menlu Subandrio dan dr. Leimena. Semestinya suasana murung karena baru kemarin para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Yang terjadi malah suasana gelak dan tawa. Pak Harto mendapat kesempatan memberi laporan bahwa orang-orang PKI pasti punya hubungan dengan penculikan dan pembunuhan tersebut.
Nyoto menyangkal tanggungjawab PKI terhadap kudeta yang gagal itu. Malahan dia menuduh dilakukan oleh “Dewan Jenderal”. Presiden Soekarno dalam kesempatan itu mengarahkan telunjuknya kepada Nyoto, dan berkata, “Nyoto, kau tolol, mengobarkan peristiwa yang terkutuk itu. Peristiwa ini menghancurkan nama komunis. Itu satu tindakan kekanak-kanakan.”

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pasukan Khusus Indonesia

Posted by suryasajalah pada Maret 13, 2009

Seperti yang kita ketahui bersama dalam TNI dikenal beberapa macam pasukan khusus. Tapi yang anda sebutkan adalah unit2 anti teror “khusus” yang notabene direkrut dari pasukan khusus intern organik-nya (misal anggota den 81 kopassus, anggotanya jg diambil dari kopassus yang sudah berkualifikasi sandhi yudha) dalam beberapa tingkatan pelatihan khusus dan tes ketat…barulah mereka bisa memperoleh kualifikasi anti teror. Tim anti teror milik TNI BERBEDA dengan Detasemen 88 POLRI (non brimob) atau detasemen GEGANA BRIMOB POLRI dalam beberapa hal. Baik scr organisasi, standart rekruitmen personel, dan tugas pokok. Karena militer cenderung melatih para prajuritnya secara “lebih ganas” daripada polisi yang penugasannya adalah penegak hukum. Kewenangan dan penugasan kepolisian bisa berlaku pada seorang prajurit militer…tetapi belum tentu polisi bisa mengemban tugas militer. Seperti yang terjadi di Aceh ketika tim Brimob “ngotot” masuk belantara aceh…..mereka sering kali kocar kacir…karena memang bukan “habitat”-nya disana. Konteks adanya pasukan Brimob (yang berstatus PARAMILITER-dilatih seperti tentara tapi bukan tentara) tentu saja hatus dikaji ulang 

Calon anggota GULTOR pada Kopassus TNI AD harus sudah menempuh kualifikasi : 
a. intelijen (minimal intelijen tempur) 
b. wing combat freefall / jump master dan mobud 
c. kemampuan menembak pistol dan senapan minimal klas 2 
d. berenang dan menyelam 
e. mempunyai kualifikasi tambahan dari korps asal (bagi non korps infanteri) 

GULTOR EDUCATION
Personel gultor dididik sembilan bulan (untuk pertempran khusus selama 6 bulan dan keahlian per orangan 3 bulan di SEKOLAH PERTEMPURAN KHUSUS PUSDIKPASSUS BATU JAJAR) dengan metode SAS dan GSG – 9 (untk keahlian anti teror). Seperti yang kita ketahui bersama bahwa model pendidikan anggota kopassus merupakan kiblat bagi saudara2 nya yang lain 

Tentang Taifib KORPS MARINIR TNI AL , kopaska dan DENJAKA (PART II) : 

Personel INTAI AMPHIBI MARINIR AL direkrut dari anggota berbagai macam keahlian dalam lingkup Korps Marinir. Dan calon harus minimal berdinas 2 tahun dan punya wing para 

Standart perekrutan untuk calon anggota taifib sama dengan umumnya perekrutan pasukan khusus ditambah dengan tes berenang dengan tangan dan kaki terikat sepajang 2 km. 

Pendidikan calon anggota Taifib dulunya dilaksanakan di jakarta dan di surabaya (menurut batalyon masing2) tetapi sekarang dilaksanakan di PUSLATPUR MARINIR Karangtekok Situbondo JATIM. Lama pendidikan 8 bulan meliputi : jungle warfare and survival,tahap rawa lanjutan. tahap laut lanjutan. pendaratan pantai khusus, medis, operasi raid amphibi, perang kota dan operasi amfibi rintis (untuk pancangan landing pasukan pendarat) serta combat freefall dan menembak dengan berbagai senjata+ intelijen tempur. Brevet Taifib DIKLAIM sama dengan brevet KOMANDO kopassus. 
Marinir punya 2 batalyon taifib utk pasmar 1 dan 2. Kedudukan Taifib adalah 1 tingkat dibawah DENJAKA. 

KOPASKA (KOMANDO PASUKAN KATAK) : 

Anggota kopaska direkrut dari anggota TNI AL non anggota korps marinir. 
Calon anggota Kopaska selain di tes dengan standar militer juga di tes tentang kemampuan renang-nya. karena KOPASKA adalah satuan khusus untuk peperangan laut setingkat US NAVY SEAL. kopaska hanya menerima 5 – 10 orang setahun (yang lulus pendidikan sepaska) 

Anggota KOPASKA dididik di pusdik paska di pondok duyung. Lama pendidikan adalah 7 bulan. Diawali dengan pekan orientasi fisik, dan tehnik beregu senapan, dilanjutkan dengan hell week ( minggu neraka) dimana fisik dan mental siswa di “bantai” habis habisan dengan kegiatan yang sangat melelahkan baik skenario tempur atau kemampuan fisik terutama aspek kegiatan di laut (berenang, mengayuh rakit dsb), tahap selanjutnya adalah pengenalan tehnik terjun payung tempur di BATUJAJAR (pusdik passus) kadang kala kopaska juga “menitipkan” siswa nya ke sekolah para korps marinir di pusdik MArinir – gunungsari surabaya. Setelah lulus, dilanjutkan dengan tahap laut dimana para siswa mendalami selam tempur, UDT dan operasi raid amfibi, survival dan perang hutan. Pendidikan Kopaska ditutup dengan latihan berganda di P. LAKI dan ditandai dengan pembaretan serta pemberian brevet MANUSIA KATAK kepada anggota baru KOPASKA. Metode pendidikan kopaska diadaptasi dari metode pendidikan komando kopassus 

DENJAKA : (DETASEMEN JALA MENGKARA) 

DENJAKA adalah satuan gabungan antara personel kopaska dan taifib marinir. anggota DENJAKA dididik di bhumi marinir CILANDAK dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek LAut) lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya DENJAKA memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut 

 BATALYON RAIDER : 

Awalnya (th60-an) Raider dibetuk sebagai pasukan infanteri pemukul yang kemampuannya bisa 10 kali lipat pasukan infanteri biasa. Kemampuan mereka dilatih oleh RPKAD dengan dibekali cara bertempur komando tingkat regu tahap pantai dan hutan, survival,menembak jitu dan pengetahuan ttg operasi raid yang tidak dipelajari pada pasukan infanteri biasa. Raider berasal dari satuan tentara di bawah komando pasukan teritorial (KODAM). Awalnya berasal dari nama satu batalyon dalam resimen Achmad Yani yang bernama BANTENG RAIDER. pelatihan RAIDER..entah bagaimana ceritanya akhirnya menjadi syarat mutlak bagi prajurit para dalam lingkungan KOSTRAD. setelah tahun 1967 maka Pelatihan Raider diharuskan untk semua prajurit infanteri yang berasal dari organik KODAM maupun KOSTRAD. Ditambah lagi siswa dari kecabangan tempur yang lain baik dalam KODAM maupn KOSTRAD. 

Pelatihan RAIDER dulunya tidak bertempat pada suatu lokasi pendidikan. Mereka berpindah pindah…walaupun sebenarnya pusat pendidikan latihan pertempuran AD sudah ada di tiap KODAM….. diawali dengan basis hutan, gunung, laut dan rawa serta tehnik operasi peledakan perang kota dan intelijen. pendidikan ini berkisar antara 8 bulan. instruktur langsung oleh kopassus. Sekitar tahun 78, batalyon infanteri berkualifikasi Raider dibubarkan. Dan Pelatihan Raider tidak digunakan lagi. Sebagian pelajaran pelatihan Raider digunakan dalam latihan yudha wastu pramuka (tahap II) bagi calon prajurit Infanteri. 

Raider hidup lagi berkat gagasan KSAD Jend. Ryamizad. Beliau menilai keahlian Raider sebenarnya sangat penting dan efisien untk operasi militer. Walaupn Ryamizard tidak pernah merasakan latihan Raider murni (yang berpindah pindah itu….) tapi dia paham akan pentingnya kualifikasi raider. Maka Ryamizard mengutus KOPASSUS untk mendidik instruktur2 Raider yang berasal dari batalyon2 infanteri (non linud) serta DEPO DODIKLATPUR. untk mempelajari sama persis dengan pelajaran Raider dulu dengan modifikasi sesuai keperluan + operasi mobil udara. Lama pendidikan Raider baru ini bagi 10 batalyon pertama adalah 6 bulan. 20 yang terbaik setiap angkatan dididik lagi di pusdikpassus untuk mendalami ilmu anti teror. Pendidikan Raider berlangsung di DEPO PENDIDIKAN LATIHAN PERTEMPURAN di tiap KODAM dan PUSDIK INFANTERI CIPATAT. Pendidikan berakhir dengan pembaretan hijau tua (khas raider) wing MOBUD dan brevet raider. 

Posted in Militer | 2 Comments »

Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat (Kostrad)

Posted by suryasajalah pada Maret 13, 2009

KOSTRAD (Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat)

Logo KOSTRADKOSTRAD (Komando Strategi dan Cadangan TNI Angkatan Darat) adalah salah satu kesatuan andalan TNI dan merupakan bagian dari Bala Pertahanan Pusat yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat. KOSTRAD memiliki pasukan berkisar antara 25.000 sampai 26.000 personil yang selalu siap untuk beroperasi atas perintah panglima TNI kapan saja.

Sejarah KOSTRAD

Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) secara resmi terbentuk pada tanggal 6 Maret 1961. Tanggal pembentukan ini didasarkan pada tanggal disahkannya cikal bakal Kostrad, yakni Korps Tentara Ke I/Cadangan Umum Angkatan Darat (Korra-I/Caduad) melalui Surat Keputusan Men/Pangad No. Mk/Kpts.54/3/1961, tanggal 6 Maret 1961.

Ide pembentukan Korra-I/Caduad berasal dari Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat). Pertimbangannya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia memerlukan adanya suatu kekuatan cadangan strategis yang bersifat mobil, siap tempur dan memiliki kemampuan lintas udara serta sanggup melakukan operasi secara sendiri-sendiri maupun dalam komando gabungan, yang setiap saat dapat dikerahkan ke seluruh penjuru tanah air untuk menghadapi segala macam tantangan, cobaan dan gangguan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Cikal bakal Kostrad berasal ketika Indonesia pertama kali berurusan dengan isu kemerdekaan Irian Barat pada tahun 1960, pada tahun itu Kostrad harus melaksanakan operasi pembebasan Irian Barat (sekarang Irian Jaya), padahal kekuatannya saat itu baru mencapai 60% dari kekuatan yang ditentukan.

Sukses mengemban misi di Irian Barat, Kostrad kembali ditugaskan melaksanakan Operasi Dwikora menyusul konfrontasi dengan Malaysia pada 3 Mei 1964.

Untuk melaksanakan operasi tersebut Presiden RI waktu itu, Soekarno, memerintahkan Kostrad untuk membentuk Komando Mandala Siaga atau Kolaga yang merupakan komando gabungan. Kostrad mengerahkan dua komando tempur, yaitu Kopur I Rencong yang ditempatkan di Sumatra dan Kopur II ditempatkan di Kalimantan. Operasi Dwikora berakhir 11 Agustus 1961.

Panglima 1 KOSTRADMayor Jenderal Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden Indonesia) dipercaya sebagai orang pertama yang menjabat Panglima Kostrad (Pangkostrad).

Selama masa Orde Baru, Korps baret hijau ini tidak pernah absen dari berbagai operasi militer di Indonesia, seperti G-30-S/PKI, Operasi Trisula, PGRS (Sarawak People’s Guerrilla Force) di Sarawak, PARAKU (North Kalimantan People’s Force) di Kalimantan Utara dan Operasi Seroja di Timor Timur. Kostrad juga dilibatkan pada tingkat internasional dengan diberangkatkannya pasukan Garuda di Mesir ( 1973 – 1978 ) dan Vietnam ( 1973 – 1975 ) serta dalam operasi gabungan sebagai pasukan penjaga perdamaian dalam perang Iran-Irak antara 1989 dan 1990.

Tahun 1984 Pangkostrad bertanggung jawab langsung kepada Panglima ABRI dalam operasi-operasi pertahanan dan keamanan. Sekarang ini Kostrad memiliki kekuatan pasukan sekitar 35.000 sampai 40.000 tentara dengan dua divisi infantri yaitu Divisi Satu yang bermarkas di Cilodong, Jawa Barat dan Divisi Dua yang bermarkas di Singosari Kabupaten Malang Jawa Timur. Setiap divisi memiliki brigade lintas udara dan brigade infantri.

Kekuatan Tempur Kostrad

Special Unit :
Peleton Intai Tempur / TONTAIPUR

Istilah dalam TNI:
– Brigif: Brigade Infanteri (Infantry Brigade)
– Yonif: Batalyon Infanteri (Infantry Batallion)
– Yonif Linud: Batalyon Infanteri Lintas Udara (Airborne Infantry Batallion)

Divisi Infantri (Cilodong, Bogor, Jawa Barat)
1. Brigif Linud 17/Kujang I (Cijantung, Jakarta Timur):

  • Yonif Linud 305/Tengkorak (Karawang)
  • Yonif Linud 328/Dirgahayu (Cilodong, Bogor)
  • Yonif Linud 330/Tri Dharma (Cicalengka, Bandung)

2. Brigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti (Makasar, Sulawesi      Selatan) :

  • Yonif Linud 431/Satria Setia Perkasa (Kariango, Maros, Sulawesi Selatan)
  • Yonif Linud 432/Rajawali (Makassar, Sulawesi Selatan)
  • Yonif Linud 433/Julu Siri (Sulawesi Sulawesi Selatan)

3. Brigif 13/Galuh (Tasikmalaya, Jawa Barat):

  • Yonif 303/Setia Sampai Mati (Garut)
  • Yonif 321/Galuh Taruna (Majalengka)
  • Yonif 323/Buaya Putih (Ciamis)

Supports:

  • Yonkav 1/Tank – Badak Ceta Cakti (Cijantung, East Jakarta)
    - Scorpions Tanks and APC
  • Kompi Kavaleri Intai Divisi-1
  • Resimen Artileri Medan 2 (Sadang, Purwakarta):
    - Yon Armed 9/Pasopati (Sadang, Purwakarta)
    - Yon Armed 10/Brajamusti (Sukabumi)
    - Yon Armed 13/Nanggala (Bogor)
  • Yon Arhanud Ringan 1/Purwa Bajra Cakti (Serpong)
  • Yon Zipur 9/Para (Ujungberung, Bandung)
  • Yon Bekang (Cibinong, Bogor)

Divisi Infanti (Singosari, Malang, Jawa Timur)
1. Brigif Linud 18/Trisula (Malang, East Java):

  • Yonif Linud 501/Bajra Yudha (Madiun)
  • Yonif Linud 502/Ujwala Yudha (Malang)
  • Yonif Linud 503/Mayangkara (Mojokerto)

2. Brigif 6/Trisakti Baladaya (Solo, Central Java):

  • Yonif 411/Pandawa (Salatiga)
  • Yonif 412/Bharata Eka Sakti (Purworejo)
  • Yonif 413/Bromoro (Solo)

3. Brigif 9/Daraka Yudha (Jember, East Java):

  • Yonif 509/Darma Yudha (Jember)
  • Yonif 514/Sabbada Yudha (Situbondo)
  • Yonif 515/Utara Yudha (Tanggul)

Supports:

  • Yonkav 8/Tank – Narasinga Wiratama (Pasuruan):
    - Scorpion Tanks and APR
  • Kompi Kavaleri Intai Divisi-2
  • Resimen Artileri Medan 1 (Singosari, Malang):
    - Yon Armed 8 (Jember, East Java)
    - Yon Armed 11/Guntur Geni (Magelang, Central Java)
    - Yon Armed 12 (Ngawi, East Java)
  • Yon Arhanud Ringan 2/Amwanga Bhuana Wisesa (Malang)
  • Yon Zipur 10 (Pasuruan)
  • Yon Bekang (Malang), and others.

Sumber :
– Sejarah TNI
– wikipedia

Foto-foto KOSTRAD dalam latihan dan operasi militer

parade 1parade 2

Latihan 1parade 2

Latihan 2Latihan 3

Latihan 4Latihan 5

Latihan 6Latihan 7

Oprasi Aceh 1Bergabung dengan Pas. PBB

Latihan 8Latihan 9

Latihan 10Latihan 11

Latihan 13Latihan 13

IPTN NC-212-200M Aviocar De Havilland Canada DHC-2 Beaver Mk.1

IPTN NBO-105CB-4 Mi TNI-AD LATIHAN SERANGAN UDARA

PERSIAPAN LATIHAN Prajurit Yonif Linud 330 Latihan Menembak Curam

Sniper Prajurit Yonif Linud 330Prajurit Yonif Linud 330 Latihan Patroli Rawa LautPrajurit Yonif Linud 330 Latihan Patroli Rawa Laut

Prajurit Yonif Linud 330 In ActionPrajurit Yonif Linud 330 In ActionPrajurit Yonif Linud 330 In Action

Kasad saat memeriksa pasukan pada pengukuhan hari infanteri Hari Juang Kartika 2006

Hari Juang Kartika 2006 Hari Juang Kartika 2006

Posted in Militer | 12 Comments »

Presiden SBY Resmikan Universitas Pertahanan Indonesia

Posted by suryasajalah pada Maret 13, 2009

akarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, di Istana Negara Jakarta meresmikan Universitas Pertahanan Indonesia (UPI) yang diprakarsai Departemen Pertahanan RI.

Peresmian ditandai dengan penyerahan bendera UPI dari Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada Presiden, yang kemudian diikuti penyampaian kuliah perdana oleh Presiden.

Peresmian lembaga pendidikan setingkat pascasarjana itu dilanjutkan dengan seminar internasional bertajuk “Indonesia 2025: Geopolitical and Security Challenges” yang diselenggarakan di Kantor Dephan.

Dalam sambutannya Menhan mengatakan Indonesia sudah saatnya memiliki lembaga pendidikan pertahanan yang sesuai dengan tingkat kepentingan dan peran Indonesia di wilayah Asia Pasifik dan negara-negara G-20.

Presiden Resmikan Universitas Pertahanan IndonesiaUPI diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di bidang pertahanan yang sudah ada serta menjadi sumber penyiapan calon-calon pemimpin masa depan baik dari kalangan militer maupun sipil, khususnya yang akan menduduki sejumlah posisi penentu kebijakan strategis nasional di bidang pertahanan dan keamanan.

“Kita ingin agar lembaga ini ikut menyumbangkan pikiran tentang ke mana negara ini akan dibawa dalam konteks perubahan-perubahan nasional, regional, dan global,” kata Menhan.

Alumni UPI juga diharapkan dalam 10 – 15 tahun ke depan bakal menjadi calon-calon pemimpin bangsa yang mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih memiliki kepercayaan diri, kompetitif dan lebih beradab di mata negara-negara di dunia.

Presiden Resmikan Universitas Pertahanan IndonesiaUPI menyelenggarakan tiga program utama pascasarjana yang dioperasikan di bawah Sekolah Strategi Perang Semesta (SSPS), Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI) dan Sekolah Kajian Pertahanan dan Strategis (SKPS).

UPI berwenang untuk memberikan gelar “Master of Defense Studies” kepada lulusan dari salah satu program-program di atas.

Sejumlah menteri dan duta besar beberapa negara sahabat hadir dalam acara itu.(Sumber : Antara)

Posted in Umum | 1 Comment »

Kopassus

Posted by suryasajalah pada Maret 13, 2009

Terlepas dari Pro dan Kontranya keberadaan Kopassus baik pada Orde Baru dan sekarang Orde Reformasi, yang jelas Semangat, Mental, Cara Bersikap Pasukan ini perlu kita cermati, hanya sebatas itu.

Dibawah ini saya mencoba untuk sedikit menyampaikan beberapa hal mengenai tentara kebanggaan TNI AD / TNI yang bernama Kopassus. Saya berusaha menjauhi informasi formal yang sudah sering kita baca di koran-koran, apa yang ada ini lebih berupa “inside Kopassus”. Kopassus adalah pasukan utama Negara dalam menghadapi musuh dari luar.

Motto : BERANI — BENAR — BERHASIL

 

Kilasan Sejarah

Kopassus dibentuk oleh Kolonel AE Kawilarang yang waktu menjabat sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium Siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI /TII, namanya Mayor Mohammad Idjon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser).

Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD.

Baretnya pun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan belanda “red barets”.

Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne /lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan khususnya yang menggunakan baret warna merah.

 

Struktur Organisasi

Saat ini Kopassus terdiri dari 5 Group (istilah group hanya dipakai oleh Special Forces dibeberapa negara didunia, sedangkan tentara pada umumnya menggunakan istilah Batalyon, Detasemen, Brigade dan Divisi). Setiap Group dipimpin oleh seorang Pamen berpangkat Kolonel. Dari prajurit sampai dengan Kolonel adalah tentara yang profesional dan terlatih terus baik secara fisik maupun mental. Jadi jangan dibayangkan bahwa semakin tinggi pangkat atau tua usia seorang prajurit Kopassus itu akan jadi lamban seperti tentara pada umumnya. Sangat sulit menemukan anggota TNI yang pensiun di Kopassus, karena begitu fisiknya tidak memadai, Ia akan langsung mutasi ke Satuan lainnya.

Group ini baru dimekarkan oleh Letjen Prabowo beberapa tahun lalu, sehubungan dengan AGHT (Ancaman, Gangguan, Hamabatan dan tantangan) yang ada didepan kita di masa mendatang.

Diperkirakan tidak akan ada perang dalam skala besar tapi justru skala kecil intensitas tinggi (terorisme, penculikan dll) Sebagai mana layaknya Pasukan Khusus didunia, maka Kopassus dibentuk untuk menghadapi Perang dalam skala kecil tapi berintensitas tinggi, seperti terorisme. Group 3 berlokasi di Batujajar, Jabar (dekat Cimahi) dan merupakan Pusdikpassus (pusat Pendidikan Kopassus). Tempat latihannya berada disekitar Bandung sampai dengan Cilacap.

 

Group 1 – 3 bekualifikasi PARA KOMANDO (semua anggotanya harus mengikuti latihan terjun payung dasar / tempur ).

 

Group 4 disebut Sandi Yudha dan berlokasi di Cijantung Jakarta, merupakan orang pilihan dari 3 group pertama yang dilatih kembali menjadi berkwalifikasi Intelejen Tempur, dengan tugas menghancurkan lawan digaris belakang pertahanan lawan (penyusupan). Mereka adalah tentara profesional yang dalam pergerakannya dalam bentuk Unit (istilah dalam Special Forces, dalam tentara biasa disebut Regu, Peleton atau Kompi) berjumlah sekitar 5 orang.

 

Dalam masa damai seperti saat ini, mereka mendapat tugas IntelejenTeritorial, misalnya mengetahui karakteristik demografi suatu daerah, pendukung dana yang bisa dimanfaatkan, tokoh-tokoh masyarakat, preman-preman dll.

(Sebagai informasi saja, bahwa sejak bulan Juni 1997, Kopassus mengirimkan team kecilnya keseluruh kota-kota besar di Indonesia dengan tugas RAHASIA, karena ABRI yang lainpun tidak mengetahui dengan pasti apa tugas mereka. Di beberapa lokasi / Kodam, tentara lokalnya bahkan tersinggung karena seolah-olah dianggap tidak mampu me manage daerahnya. Mereka ditarik kembali ke Jakarta pada bulan Januari 1998)

Kehebatan lain Group ini adalah pola perilaku dan penampilannya yang sama sekali tidak mirip tentara. Misalnya cara bicara tidak patah-patah, rambut panjang, tidak pernah menghormat atasan atau yang pangkatnya lebih tinggi bila bertemu di luar Ksatrian mereka. Jadi sangat jauh dengan Serse Polisi atau Intel Kodim dll. yang kadangkala justru menunjukkan kalau dirinya Intel Mereka tidak ngantor setiap hari dan sangat jarang pakai seragam, hanya pada saat tertentu saja mereka kembali ke kantor (misalnya 2 minggu sekali untuk laporan atau mendapat tugas baru). Jadi pada prinsipnya mereka sangat aktif berkecimpung dalam kehidupan masyarakat biasa misalnya di RT / RW, Perkumpulan Terjun Payung, Jeep Club dll. (terutama bagi mereka yang tidak tinggal di Ksatrian).

Group ini sangat profesional dalam penyamarannya dan juga sudah mendapatkan pendidikan Perang Kota dari Green Berets US Army. Di Timor Timur, Aceh dan Irian (3 hot spot di Indonesia yang sering digunakan sebagai ajang latihan juga) mereka menyusup sampai ke kampung -kampung dan membentuk basis perlawanan terhadap GPK dari masyarakat lokal sendiri. Oleh karenanya kemampuan menggalang massa nya sangat terlatih.

 

Group 5 (atau yang dikenal sebagai Den 81, karena keberhasilannya dalam peristiwa pembajakan pesawat di Don Muang, Muangthai tahun 1981) adalah orang pilihan dari Group 4 dan merupakan yang terbaik yang dimiliki Kopassus.

Mereka memiliki Ksatrian tersendiri di Cijantung dan terisolir. Klasifikasinya adalah ANTI TERORIS dan akan selalu mengikuti perjalanan kenegaraan Presiden. Pengetahuan orang bahkan TNI sendiri tentang Group ini sangat minim, karena mereka sangat terisolir dan rahasia. Sebuah sumber mengatakan bahwa mereka mengikuti pola GSG 9 Jerman (Pasukan elite polisi Jerman, yang berhasil dalam pembebasan sandera di Kedutaan besar Jerman di Iran). Mengingat Prabowo adalah satu-satunya Perwira Indonesia yang pernah lulus dalam pendidikan anti teroris di GSG 9.

 

Namun demikian saat ini mereka sudah mulai mencampurkan pola latihannya sehubungan dengan banyaknya perwira yang dilatih oleh Green Berets US Army (misalnya Mayjen Sjafrie Sjamsuddin). Peralatan yang mereka miliki sangat canggih dan tidak ada bedanya dengan Satuan elite tentara lainnya di dunia. LATIHAN Jadi pendidikan awal seorang Kopassus adalah mengambil kualifikasi KOMANDO yang harus dijalani sekitar 6 bulan.

Materi latihan meliputi Perang Hutan, Buru Senyap, Survival (dilakukan di daerah Situ Lembang dilanjutkan dengan long march ke Cilacap untuk latihan rawa laut, survival laut, pendaratan pantai dll. Selain itu juga mereka harus mengambil pendidikan PARA DASAR Tempur dengan materi yang meliputi terjun malam, terjun tempur bersenjata dan diterjunkan di hutan (membawa senjata, ransel, payung utama dan payung cadangan).

Dalam semua latihannya mereka akan menggunakan peluru tajam, oleh karenanya tidaklah heran bila hampir dalam setiap latihan selalu ada siswa yang meninggal dunia karena berbagai sebab (kelelahan, kecelakaan dll).

Standard yang dipakai di Kopassus sangat amat ketat, bagi yang fisiknya kurang mampu atau mentalnya lemah, jangan harap bisa bertahan didalam latihan ini, atau di Satuan ini. Kesalahan sekecil appaun tidak akan ditolerir, karena memang tugas mereka sangat berbahaya. Setiap anggota Kopassus harus memiliki keahlian khusus seperti menjadi penerjun payung handal (Combat Free Fall), penyelam, penembak mahir (snipper), Daki Serbu, Komputer / perang elektrokika,perang psikologi, menguasai sedikitnya 2 bahasa daerah bagi para tamtama dan bintara dan bahasa asing untuk para perwiranya.

Mereka diseleksi secara ketat, baik oleh Team Kes AD (Kesehatan), PSI AD (Dinas Psikologi AD ) dan Team Jas AD (Jasmani / Kesemaptaan). Proses seleksi ini pada dasarnya berjalan terus menerus sampai dengan selesainya latihan, seorang Pasis (Perwira Siswa) yang melakukan kesalahan pada hari terakhir latihan, akan langsung dipecat, artinya tidak ada kompromi. Oleh karenanyalah, LOYALITAS terhadap perintah atasan sangat penting dalam organisasi ini.

PERLENGKAPAN Kopassus meruapakan tentara pilihan dan mereka tidak mentolerir kesalahan dalam operasi sekecil apapun (Safety First), oleh karenanya perlengkapan yang mereka pakai sangat jauh berbeda dengan Tentara lainnya. Perlengakapan mereka sangat canggih dan modern, misalnya saja untuk peta Kompas, sudah tidak menggunakan lagi Kompas Prisma, tapi GPS (Global Positioning System) yang langsung berhubungan dengan Satelit, dengan hanya menekan satu tombol digital, mereka akan mengetahui dengan tepat posisinya , jarak yang akan ditempuh bila akan menuju ke koordinat tertentu.

Group antiterornya menggunakan senapan H&K MP5 , yang merupakan standar pasukan khusus terbaik didunia seperti Green Berets, Delta Force, Navy Seal, GSG 9 Jerman, SAS dll. Pistol yang dipakai Beretta 9 mm., selain itu juga berbagai macam kaliber lainnya seperti kal.22 (pistol kecil). Apabila peralatan yang mereka pakai sudah saatnya diganti (menurut manual) maka akan segera diganti. Hal ini sangat jauh berbeda dengan tentara lainnya yang cenderung konvensional dan melakukan tambal sulam terhadap peralatannya.

Mereka punya peralatan terjun payung tercanggih untuk melalukan HALO dan HAHO (High Altitude Low Opening) dan (High Altitude High Opening) yang memakai masker oksigen dll. Penerjunan ini dilakukan setinggi mungkin, sekitar 10.000 feet dan kemudian dia akan melayang dan membuka payungnya serendah mungkin guna menghindari radar lawan (agar tetap tampak seperti burung yang melayang diudara diradar lawan).

Peralatan pendaratan pantai (memiliki LCR / Landing Craft Rubber / Perahu karet dengan mesin tanpa bunyi, yang digunakan untuk operasi penyusupan dimalam hari), menyelam (dilatih seperti UDT US Navy, Underwater Demolition Team), team Daki Serbu ( yang baru saja menaklukkan Himalaya dan dikenal diluar sebagai PPGAD / Persatuan Pendaki Gunung TNI AD).

Kehebatan Kopassus adalah mereka tidak segan-segan untuk meminta bantuan pihak lain yang dianggap ekspert dibidangnya seperti PADI untuk menyelam, AVES untuk terjun payung, Wanadri untuk naik gunung dll. Yang dalam perjalannanya kemudian akan mereka modifikasi sendiri untuk keperluan tempur dan malahan menjadi lebih hebat.

Sebagai sebuah Satuan mereka memiliki Dinas Hub (Perhubungan) sendiri yang sangat canggih dan memiliki sistem perhubungan portable yang mandiri dan Satelite mobile phonet, Kes (Kesehatan) sendiri, Pal (Peralatan) sendiri dengan persenjataan yang canggih, Bek (Perbekalan) sendiri, Ang (Angkutan) sendiri, dengan mobil-mobil Hummer, m obil dipantai dll. Bahkan mereka merencanakan untuk membeli helikopter sendiri dari Rusia (namun gagal karena Krismon). Jadi pada prinsipnya mereka sangat mandiri, termasuk memiliki sejumlah panser.

 

Kesimpulan & Keunggulan

1. 1 orang Kopassus dapat disetarakan dengan minimal 3 orang tentara biasa, karena ybs dilatih dengan berbagai ketrampilan (komunikasi radio, menembak, P3K dll). Di tentara biasa hal ini tidak dijumpai. Terutama untuk Den 81, kemampuan 1 prajurit Kopassus Den 81 sama dengan 6 orang tentara biasa.

2. Kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi terhadap tugas

3. Biaya pelatihan bagi seorang Kopasssus sangatlah mahal

4. Peralatan yang canggih dan tepat guna

5. Secara umum kesejahteraan anggota Kopassus lebih baik dibandingkan tentara pada umumnya, terutama ketika dibawah Prabowo, karena ia sangat memperhatikan hal ini. (misalnya bila ada lelangan mobil di Bimantara dll. maka mobil bekas tersebut akan segera di beli oleh Kopassus untuk dijual murah kepada anggotanya / perwira)

6. Sangat jarang bagi mereka tinggal dirumah, selalu latihan dan operasi

 7. Mereka adalah tentara profesional yang tidak pernah ragu untuk mengambil keputusan dalam membela negaranya dari bahaya

 8. Sangat amat jarang ditemukan anggota Kopassus yang bekerja menjadi SATPAM di industri-industri, sebagaimana sering ditemui terjadi pada tentara lainnya. Karena relatif taraf ekonomi mereka lebih terjamin sehubungan dengan adanya YAYASAN KOBAME (Korps Baret Merah)

 9. Cara-cara mereka beroperasi sangat profesional (dalam pengertian tentara misalnya tehnik membunuh, kontra intelejen, agitasi, propaganda, perang psikologi, penggalangan massa, menguasai berbagai macam type senjata). Saya tidak mengartikannya dalam konteks HAM dan hukum positif.

 

Info Tambahan:

 Sebenarnya Indonesia juga mempunyai pasukan khusus lainnya milik TNI AL, namanya DEN JAKA (Detasemen Jala Mengkara) yang bermarkas di Jakarta dan dipimpin oleh seorang mayor (dikenal dekat dengan Prabowo).
Pasukan ini memiliki kemampuan UDT (Under Water Demolition Team) dan dilatih secara intensif oleh US Navy Seal. Mereka aktif terlibat dalam menangkal masuknya kapal Louisiana Expresso beberapa tahun yang lalu di perairan Timtim. Detasemen ini juga mengadopsi SBS , team pendarat pantai yang handal dari US Navy dan AL Inggris. Mereka biasa melakukan penerjunan malam hari di rig-rig minyak lepas pantai, dengan menggunakan skenario terorisme. Jadi sabotase dibawah laut , penghancuran dan penyerangan dari laut merupakan keunggulan Satuan ini. Perlu diketahui bahwa selain tingkat fisik dan mental yang kuat, intelegensi para perwiranya juga sangat dominan.

Posted in Militer | 6 Comments »

Tips Mengikuti Tes Akademi Militer

Posted by suryasajalah pada Maret 13, 2009

Sebaiknya persiapan dilakukan selama 1 tahun, pada saat masuk kelas tiga SMA, minimal 6 bulan.

Karena itu lebih baik saya sebutkan kriteria kualitas kesehatan, kemampuan fisik dan mental yang harus dimiliki/dicapai pada saat menghadapi tes nanti :

1. Kualitas kesehatan:

  • Lakukan segera general check up dirumah sakit militer terdekat yang membuka poliklinik untuk umum, untuk mengetahui antara lain: Tekanan darah ( ideal 120/80); Detik jantung ( ideal 60-90 permenit); HB darah ( ideal 14-16/gr); Gula darah normal; Kolesterol normal;hasil rontgen paru paru baik/normal; gigi sehat/tidak ada bolong; tidak menderita ambeien/wasir; tidak menderita varikokel; tidak menderita pembengkakan di pembuluh darah balik dibetis kaki;jantung sehat; mata normal;tidak buta warna dll.
  • Lakukan penyembuhan atau perbaikan bila ada yang belum ideal oleh dokter militer.
  • Untuk penderita varises, dapat disuntik agar varises tersebut hilang max 2 minggu sebelum tes kesehatan.

2. Kemampuan fisik/kesamaptaan/fitness harus diatas rata rata kemampuan calon lain:

  • Lari 12 menit harus mampu  menempuh jarak minimal 2470 m atau 8 kali keliling lapangan sepakbola (400 m).
  • Push up harus mampu 30 kali repetisi/lebih
  • Sit up harus mampu  30 kali repetisi/lebih
  • Pull up harus mampu minimal 13 kali/lebih
  • Shuttle run 6×10 m dalam waktu 15 detik

3. Kondisi kejiwaan untuk menghadapi psikotest

  • Perkokoh niat ingin menjadi prajiurit pejuang yang profesional, yang bersedia mengorbankan jiwa dan raga untuk kepentingan bangsa dan negara..tanamkan terus menerus dalam hati bahwa anda siap mati untuk kepentingan bangsa..bahwa setelah cinta Allah, cinta anda yang kedua adalah bukan pacar, bukan orang tua, bukan siapapun, tapi kejayaan bangsa dan negara…tanamkan ini terus menerus sampai betul betul merasuk dalam hati sanubari dan alam bawah sadar anda…
  • Lepaskan berbagai masalah dan kepentingan pribadi yang selalu membelenggu anda selama ini, masalah dengan pacar, dengan teman, dengan orang tua atau dengan siapapun, harus dilupakan dulu…biarkan jiwa anda lepas bebas memenuhi impian dan jati diri anda yang sejati…yang ingin mengabdi kepada Allah SWT melalui kehidupan militer..
  • Baca sejarah perjuangan para pahlawan seperti Jendral Sudirman dll, agar merasuk kedalam kalbu semangat perjuangan mereka…
  • Lakukan latihan gambar pohon, gambar orang dan gabungannya, orang, pohon dan rumah  yang harmonis dan APABILA MENGGAMBAR, GARIS YANG ANDA BUAT JANGAN SAMPAI TERPUTUS-PUTUS.
  • Latihan mengerjakan soal-soal psikotes untuk tentara dan terutama latihan mengerjakan HITUNGAN KORAN.
  • Sebelum anda melakukan psikotes, usahakan kondisi fisik maupun mental anda berada dalam kondisi terbaik, jangan terlalu lelah dan tegang.
  • Pelajari dan sugestikan prinsip “Do the best, God takes the rest..”
4. Untuk tes wawancara, sedapat mungkin calon taruna mengetahui tentang TNI khususnya Angkatan Darat (termasuk sejarah, doktrin AD dan ideologi AD) dan mengikuti perkembangan-perkembangan berita terkini.

5.  Last but not least, kemungkinan peluang lulus ujian/saringan hanyalah 1% saja, artinya anda harus menyingkirkan 100 orang pelamar lainnya, artinya anda harus memiliki keunggulan kompetitive yang sangat tinggi, bukan asal pas pasan saja.

Selanjutnya anda jangan terpengaruh oleh budaya KKN yang mungkin ditawarkan kepada anda atau mendengar dari orang lain, lalu anda goyah dan tidak fokus…

Abaikan kelakuan buruk mereka, jangan terpengarug dan ikut ikutan…siapapun yang berbuat jahat/licik/suap/KKN dll, pasti akan mendapat hukuman yang setimpal oleh Tuhan dibelakang hari…saya tahu pasti semua kejadiannya…ada yang celaka saat latihan, ada yang ditembak anak buahnya pada saat tugas tempur, ada yang dipecat dari militer dll…

Yakinlah peribahasa: “Tangan mencencang bahu memikul.”..”Siapa menebar angin akan menuai badai.”..Semua akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan…Sayang sekali kalau anda sudah susah payah melakukan persiapan, lalu ikut ikutan KKN, nanti dikemudian hari setelah bertugas sebagai perwira, anda dimintai pertanggungan jawab oleh Tuhan…Makanya banyak perwira TNI dan keluarganya yang terlibat berbagai aib yang memalukan dikemudian hari, inilah balasan Tuhan….

Posted in Militer | 138 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.